Karimunjawa: They call it archipelago, I call it "HEAVEN"


Sumpah, beneran.. hasrat paling menggebu untuk menulis catatan perjalanan adalah ketika dalam perjalanan itu sendiri. Begitu juga perjalanan kali ini. 

Hasrat paling menggigit justru aku rasakan ketika saat berangkat. Emosi yang luar biasa plus guyuran adrenalin yang aku rasakan sejak pagi membuatku nyaris tidak bisa menikmati perjalanan ribuan kilometer sepanjang Singapore - Jakarta - Semarang. Semua berawal dari keputusan nekat mengambil maraton transport tanpa jeda dari Tiger Air untuk Singapore - Jakarta, KA Argo Bromo Anggrek untuk Jakarta - Semarang, bis AKDP untuk Semarang - Jepara, dan KMP Muria untuk Jepara - Karimunjawa. Buffer waktu untuk tiap transport 2 jam. Itinerary itu benar-benar menyentak adrenalinku ke ubun-ubun, terutama ketika pengumuman di boarding room menyebutkan bahwa flightku akan delay satu jam. Dan, diiringi sumpah serapah ke diri sendiri, menyeretku, sekalinya dalam hidup, memutuskan menggunakan jasa "Burung Perak" sesampainya aku di Cengkareng.
SIN - CGK IDR 300,000.-
CGK - Gambir "Burung Perak" IDR 200,000.-
Gambir - Tawang IDR 265,000.-
Menginjakkan kaki tepat waktu di pelabuhan Kartini Jepara - PRICELESS
KMP Muria memanggil rombongan anak ilang, yang akhirnya lengkap berjumlah 4 orang, tepat pukul 9 pagi. Perjalanan ke Pulau Karimun, pulau utama di Kep. Karimunjawa, memakan waktu 6 jam. Kemewahan AC dan kursi yang nyaman menyambut kami di kelas VIP yang harus ditebus sebelumnya dengan IDR 60,000.-. Yang aku rasa sangat jauh lebih mewah dibanding IDR 30,000.- di kelas ekonomi dengan fasilitas kursi plastik dan angin laut.

Jam belum menunjukkan pukul 3 ketika kapal terasa merapat di dermaga pulau Karimun. Mas Bayu, dari Cekeran Management, sudah siap menyambut dengan mobil pickup, bergelas-gelas es kelapa muda dan banyak jajanan pasar. Yummy...yipppieee....

Sore itu cukup diisi dengan bermalas-malasan dan bego-begoan di Nirwana Resort dan menikmati after sunset di dermaga wisata.













Pulau Karimun, sebagai pusat adminstrasi Kecamatan Kep. Karimunjawa, bisa dibilang cukup lengkap. Mulai dari Puskesmas, Kecamatan, hingga alun-alun. Dan di sanalah kami memutuskan menghabiskan malam minggu itu. Lesehan ditemani nasi hangat, ikan bakar, banyak lalapan, sambal yang dasyat dan bergelas-gelas es teh manis (Terima kasih untuk Bu Ester atas sambalnya yang luar biasa).
Hingga malam menjemput kami dalam lelap..

Hari ke dua...
Matahari sudah cukup terik ketika kami memulai petualangan hari itu. Bersama 2 orang dari Jerman dan 1 pelaut Perancis, kami berperahu menyusuri sisi barat Karimunjawa. Dimulai dari Pulau Menjangan besar, ber-snorkeling di lepas pantai Menjangan kecil. 


Gugus karang yang begitu cantik, memberi makan ikan dengan tangan kosong, pengalaman yang sangat tidak biasa. Pengalaman luar biasa sekali lagi menyambut, menangkap ikan dengan panah. Pengalamanku sendiri bukan di memanahnya, namun pengalaman mengikuti orang berusaha memanah ikan (yang ga berhasil juga) sambil berusaha keras jangan sampai dikira ikan. Tak terasa tengah hari ketika kami memutuskan melanjutkan perjalanan untuk makan siang di Cemara Kecil. Menu hari itu ikan bakar tangkapan sendiri. Oh ya, sudahkah aku bilang kalau tongkol yang dibakar pun hasil memancing tanpa gagang pancing?



 Dua spot lagi, yang tidak kalah cantik, Pulau Cemara dan Gosong Cemara kami datangi sore itu. Dalam perjalanan ke Tanjung Gelam, sesekali kami disuguhi tarian camar dan lompatan ikan tongkol. 
Sambil menikmati semilir angin di atas kapal, kupejamkan mata sejenak. Tiba-tiba tetes gerimis menyentuh kulit, padahal langit begitu cerah dan terik matahari masih terasa di punggungku. Ketika membuka mata terpampanglah pelangi sempurna di depanku berhias bulan pucat disampingnya. Benar-benar atraksi alam yang membuat tak bisa berkata-kata. 

Sore itu kami tuntaskan dengan menikmati, sekali lagi keajaiban alam, matahari terbenam sempurna lengkap dengan lukisan perahu nelayan pulang. 

Hari berikutnya kami ganti menyusuri sisi timur, yang lebih jauh. Perjalanan banyak kami habiskan di perahu, lengkap dengan diskusi kecil soal diving. Kebetulan Pak Nurul, salah satu pendamping kami adalah diver profesional. Membawa angan kembali ke keinginan untuk mengambil diving lisence.  Diawali dari Gosong Seloka, sebuah pulau pasir (gosong) dengan hamparan laut dangkal jernih kebiruan pucat cantik.

Menyusuri Pulau Kemojan, akhirnya tak berapa lama pulau tujuan kami tampak juga. Pulau Cilik, Pulau Tengah dan Pulau Sintok. Tak banyak bicara, kami puaskan diri bersnorkeling di laut di antara pulau-pulau itu. Sementara itu Pak Nurul masih sibuk dengan panah ikannya, bekal makan siang kita hari itu.
Di Pulau Tengah kesempatan datang, berbekal fin, mask dan snorkel, aku memilih berenang ke pantai sementara yang lain menyusul dengan kapal. Waktunya makan siang yang sedikit terlambat.
Setelah mengisi tenaga lagi, kali ini giliran Pulau Cilik yang kami explore. Spot snorkeling kali ini di seputaran dermaga saja. Tapi walaupun di dermaga, bisa dibilang terumbu karangnya masih sangat perawan. Cukup lama kami habiskan di Pulau Cilik, sampai tiba saat pulang. 

Namun sebelum kembali ke pulau utama, ada satu tempat yang wajib dan mutlak untuk dikunjungi. Penangkaran hiu di Menjangan Besar.

Di sana kita bisa berenang dengan hiu di kolam yang bisa dibilang cukup besar. Mungkin lebih tepat kalo aku bilang, mengganggu mereka dari tidur siangnya. Ada belasan hiu di kolam itu plus satu kura-kura, beberapa bintang laut, dan puluhan jenis ikan, termasuk beberapa Nemo si Clown Fish yang berenang santai di anemonnya. Dan tidak ketinggalan beberapa gelintir bulu babi. 

Sekilas info, kebanyakan hiu akan menghindari manusia, bahkan di habitat mereka. Dan sangat jelas, manusia bukanlah makanan favorit mereka. Bahkan lebih ironisnya, kitalah sebenar-benarnya predator untuk mereka. So, kalo ada yang masih takut berenang di laut dengan alasan takut hiu, trust me, mereka sama sekali tidak tertarik.

Puas di kolam hiu, walaupun tidak ada satupun foto dengan hiu, perjalanan dilanjutkan ke kandang elang. Satu hal yang ga habis dipikir, tempat itu disebut penangkaran elang, tapi elang yang dipelihara hanya satu? Hmm...

Terkapar, capek, penuh goresan luka, dan sedikit demam, kami pulang ke penginapan. Malam itu bulan tampil sangat cantik dengan hallo-nya.

Hari kepulangan kami pun tiba. Karena satu dan lain hal, tidak ada kursi VIP di KMP Muria untuk kami hari itu. Maka terpaksalah selama 6 jam aku habiskan dengan mengutuki orang-orang yang merokok dengan santainya di depan tulisan"Dilarang Merokok". Dan ketika suara peluit sember kapal meraung, tanda kapal telah merapat di Pelabuhan Kartini Jepara, maka secara resmi episode Karimunjawa kali ini berakhir juga.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Special thanks to Mas Bayu Cekeran Management buat sambutan, pertemanan dan hospitality-nya yang all-in-one selama di sana. Dahsyat boss.... :)
2 Responses
  1. Stevan Says:

    masak sama penyu aja gak mau kalah eksis???!!


  2. QueeNerva Says:

    Lho jangan salah...justru itu penyunya yang ga mau kalah eksis...


Thanks for leaving comment..