Bali Series: Welcome Tour

“Para penumpang yang terhormat…”
Sayup suara pramugari yang memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat QZ 8497 akan segera mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Saya yang sedang tidur-tidur ayam, segera terbangun dan melakukan pengecekan standard untuk pendaratan. Tidak berapa lama, telinga saya mulai terasa tidak nyaman seiring dengan turunnya ketinggian pesawat. Seperti biasa, saya mencoba menguap dan menggerak-gerakkan rahang untuk menyamakan tekanan dalam telinga. Sekali, dua kali, hingga ketidaknyamanan itu berubah menjadi denging menyakitkan, usaha saya tidak membuahkan hasil. Sebenarnya, saya sudah mengkhawatirkan hal ini dari sebelum berangkat. Karena sudah 2 minggu terakhir, saya punya masalah dengan hidung yang kadang-kadang mampet. Maka meskipun sudah melewati take off dengan baik, proses landing kali ini harus saya habiskan dengan menahan sakit di telinga sambil terus berusaha equalize. Hingga roda pesawat benar-benar telah menyentuh landasan, barulah saya merasa sedikit lega.
Landing di Bali menjelang tengah malam membuat saya dan sepasang teman tidak punya banyak pilihan selain segera memesan taksi di pool dan menuju Poppies Lane, tempat penginapan Dua Dara berada. Maklumlah, penerbangan yang kami pilih memang penerbangan budget seharga SGD 88.00 pulang pergi SIN – DPS. Dari bandara ke Poppies Lane menggunakan taksi dari pool resmi menguras kocek sebesar IDR 55K. Sekilas tentang Poppies Lane, well said that “Hari gini baru tahu Na?”, gang yang banyak disebut sebagai komplek backpacker di Bali ini ternyata tepat terletak di seberang pantai Kuta, yang tentu saja jarak pantai dan penginapan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jalan ini merupakan jalan searah dari arah pantai, karena memang jalan kecil ini hanya seukuran satu mobil. Sepanjang jalan banyak dijumpai toko-toko yang menawarkan segala macam mulai dari kerajinan tangan khas Bali, baju, makanan hingga tattoo. Seperti kebanyakan tempat di Kuta, makin malam atmosfer di sana terasa makin hidup. Mulai dari turis-turis yang hanya nongkrong di pinggir jalan, sampai yang menikmati malam di diskotik-diskotik yang juga banyak bertebaran. Saya tahu persis karena saya sempat keluar kamar pukul 2 pagi untuk menenangkan naga di perut saya yang mulai menuntut perhatian (di jam 2 pagi??!).
 Sedikit masuk ke dalam, mulailah terlihat jajaran penginapan. Dari beberapa phone call yang dilakukan teman saya untuk reserve kamar, harga kamar di sini bisa dibilang rata-rata sama. Dan karena kebetulan kedatangan kami bertepatan dengan peak season, rate kamar berkisar antara IDR 150K untuk fan room, dan IDR 200K untuk kamar berAC. Kondisi kamar di Dua Dara seharga IDR 150K sendiri, kalau saya pribadi bilang, so-so lah. Seperti kamar kos dengan ceiling fan, double bed, lemari pakaian, dan meja kaca Plus kamar mandi yang hanya cukup untuk berdiri satu orang.
Satu hal yang mungkin harus diperhatikan jika kebetulan menginap di area ini adalah tidak banyak penginapan yang menyediakan lahan parkir. Jadi jika berencana menyewa mobil ada baiknya ditanyakan ke pihak penginapan terlebih dahulu untuk urusan parkir. Atau jika antar jemput dengan mobil sewaan plus sopir, usahakan untuk sudah siap pada jam yang ditentukan, untuk menghindari parkir mobil yang pasti akan memakan badan jalan dan mengganggu pemakai jalan lain.
Hari pertama kami habiskan dengan berkeliling Bali menggunalan Avanza sewaan seharga IDR 350K, lengkap dengan sopir, ke arah Bedugul,mulai dari Pura Taman Ayun dan dengan rute terjauh mencapai Air Terjun Gitgit dan berakhir di Tanah Lot. Pura Taman Ayun merupakan kompleks pura terbesar di Mengwi, yang berjarak sekitar 8 KM barat daya Ubud dan 18 KM barat laut dari Denpasar. Pura yang dibangun pada tahun 1634 oleh I Gusti Agung Anom ini awalnya hanya diperuntukkan bagi kerabat kerajaan. Komplek pura yang diawali dengan sebuah jembatan menyeberangi kolam teratai ini tampak cukup terawat.

Puas foto-foto Pura Taman Ayun dengan latar belakang langit biru, kami bergerak ke utara menuju Bedugul. Seperti biasa, tidak banyak yang bisa saya ceritakan sepanjang perjalanan selama hampir 1.5 jam ini karena, meskipun matahari dengan garang menebar panasnya dari kaca depan, saya menghabiskan hampir seluruh perjalanan dengan tidur. Sesampainya di Pura Ulun Danu Bedugul, dingin udara khas pegunungan segera menyergap, jauh lebih dingin daripada AC dalam mobil tadi. Komplek pura yang terkenal dengan 2 pura di tengah danau ini, merupakan pura terpenting kedua setelah Pura Besakih di sebelah timur. Pura yang dibangun  pada tahun 1926 ini didedikasikan untuk Dewi Betari Ulun Danu, sang Dewi Air. Pada dasarnya, kompleks Pura Ulun Danu terdiri dari 9 pura. Untuk lebih lengkapnya silakan di sini. Selain scene 2 pura yang dikelilingi air tadi, keberadaan banyak sekali bunga-bunga cantik khas dataran tinggi membuat saya betah berlama-lama di sini.




Lelah berkeliling Pura Ulun Danu di Bedugul, perut yang lapar segera mengarahkan kami menuju rumah makan terdekat yang memasang tulisan “Ayam Plencing Taliwang”. Pesanan 4 porsi ayam Plencing, seporsi ayam bakar, dan seporsi sate ampela hati, plus segala pernak-pernik minuman dan sayur mengakibatkan kerusakan total IDR 200K. Perut kenyang hati riang.

Sayangnya riang hati kami tidak menular ke langit. Karena rupanya, hari itu matahari hanya menemani kami sampai di Bedugul saja. Selepas makan siang hujan turun dengan luar biasa lebat dengan jarak pandang hanya sekirat 5 meter di beberapa titik ketika kami beranjak ke utara menuju Gitgit. Kondisi tersebut terus bertahan hingga kami mencapai parkiran Air Terjun Gitgit. Berbekal payung dan jas hujan, kami membulatkan tekad untuk menuruni bukit menyusuri jalan setapak menuju ke air terjun. Treknya sendiri saya bisa bilang cukup bagus, hanya saja harus berhati-hati jika dalam kondisi basah, karena akan jauh lebih licin. Di awal, saya sempat bertanya pada Pak Sopir kami seberapa jauh trek yang harus kami tempuh, saya mendapat jawaban sekitar 200 meter. Dan ternyata, seperti biasa, jarak aktualnya berlipat 4kali. Ditambah dengan kondisi hujan yang semakin lebat, kami memutuskan hanya cukup sampa di depan air terjun, di mana kami bisa mengambil foto sebelum memutuskan untuk kembali ke parkiran. Air terjunnya sendiri cukup tinggi dengan kolam air biru kehijauan di bawah yang menjanjikan kesegaran. Sebetulnya, dengan kondisi cuaca dan waktu yang mendukung, saya tidak keberatan menghabiskan 1-2 jam untuk nongkrong di beberapa warung yang saya temui di sepanjang trek yang menyuguhkan minuman dan makanan hangat plus pemandangan yang luar biasa ke arah kota di bawah. Atau menyempatkan diri turun hingga kolam di bawah air terjun untuk sekedar sesaat berendam.


 

 Dari Gitgit, kami bergerak kembali ke selatan dengan tujuan awal Kebun Raya Bali, yang memang hanya berjarak beberapa kilo saja dari Ulun Danu. Sayangnya, hujan yang masih saja mengguyur meskipun tidak deras mengurungkan niat kami ke sana. Sebagai gantinya, dengan pertimbangan sekali jalan kembali ke Kuta, kami melipir ke barat dari rute seharusnya menuju ke Tanah Lot. Semakin ke selatan, cuaca semakin membaik meskipun matahari tidak lagi menampakkan diri. Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya gerbang Tanah Lot pun terlihat.

Bearti “Land on the Sea” dalam bahasa Bali, Tanah Lot adalah pura yang terletak di atas tebing batu yang seharusnya berada di tengah laut ketika air pasang. Kami sampai di tempat ini ketika air surut, jadilah kami bisa berjalan ke arah pura. Sebenarnya, Tanah Lot adalah salah satu spot favorit saya jika berkunjung ke Bali. Apalagi jika menjelang senja. Siluet pura di atas tebing dengan sinar jingga matahari yang mulai bergelung di cakrawala barat adalah pemandangan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Hanya saja, saya tidak bisa menikmati kunjungan terakhir saya. Selain karena membludaknya orang seperti cendol dan matahari tidak menampakan diri untuk mengucapkan salam perpisahan, saya juga sedang fokus menemukan cara menghubungi resort tempat saya menginap malam itu untuk memastikan mobil jemputan. Karena seperti biasa, Hero memutuskan untuk istirahat ketika saya butuh bantuan untuk menemukan nomer telpon pemilik resort. Apa mau dikata, kirim SMS ke sana-sini, mencoba telpon, menerima telpon dari beberapa orang dan memastikan banyak hal benar-benar menguji kemampuan multitasking saya. Jadilah, saya baru tersadar, tidak banyak foto yang saya ambil di tempat ini.
Tujuan kami selanjutnya setelah Tanah Lot adalah kembali pulang ke Poppies Lane. Perjalanan ke arah Kuta, bisa dibilang lancar. Cerita baru dimulai ketika kami mulai memasuki Legian. Di mana mobil mulai padat merayap, meskipun tidak macet total. Ditambah dengan road block di beberapa tempat, kami baru bisa memasuki area pantai Kuta pada pukul 7 malam lebih untuk kemudian langsung menuju ke Kuta Inn, tempat keempat teman saya menginap malam itu. Sedang saya yang memang sedari awal hanya akan bergabung di hari pertama dan memisahkan diri malam ini, masih saja berkutat di HP untuk meyakinkan sopir mobil jemputan saya bahwa ide dia untuk menunggu saya di pantai adalah ide buruk. “Err…pantai Kuta itu panjang Pak. Gimana saya bisa nemuin situ?”
Yah, bahkan sebelum dimulai, saya tahu, malam itu akan menjadi malam yang cukup melelahkan.
2 Responses
  1. Dewi Says:

    satu yang terlewatkan fit, kebun raya eka karya bali, ndak jauh dari ulun danu beratan.. paling 500m-an lah..


  2. QueeNerva Says:

    Dewi: Oh..ga ada sekilo ya? Tadinya mo ke sana Wi..cuman karena sampe di pertigaan masih ujan, jadi ga jadi belok kiri.. Jadilah ke Tanah Lot.


Thanks for leaving comment..