Jateng Trip: Di Balik Selembar Batik

Kalau ada orang yang iseng bertanya ke saya, ada apa di Solo, pasti jawaban saya melenceng jauh dari urusan traveling. Kota yang katanya unik dengan segala atribut ke-Jawa-annya ini sebetulnya kurang cukup menarik minat saya untuk mengunjunginya dengan alasan traveling. Catatan kunjungan saya ke sana tidak pernah lebih dari sekedar transit, janjian makan siang, dan ke Gramedia. Maka di kunjungan kali ini, saya percayakan saja ke teman saya untuk memilih tempat tujuan selama di Solo yang hanya 6 jam.
Jadilah, setelah perjalanan 3 jam dari Ungaran, kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Batik Danarhadi. Turun di ujung jalan Slamet Riyadi, setelah tanya-tanya ke petugas yang berjaga di halte bis, kami naik bis Damri yang pertama melintas. Di pertigaan (atau perempatan) Purwosari, bis membawa kami mengarah ke selatan. Tak berapa lama, bis melewati sebuah gang bertuliskan Kampung Laweyan. Teman saya segera saja menyenggol tangan saya dan bertanya, “Eh, Kampung Laweyan tu, jalan di sini dulu aja po?”. Tanpa menjawab pertanyaan teman saya, segera saja saya berteriak ke kondektur bis untuk berhenti. Sebelum kami turun, kondektur sempat bertanya, “Ga jadi ke Danarhadi Mbak?” yang saya jawab dengan cengiran.
Buat saya, itinerary dalam sebuah perjalanan itu mutlak perlu. Di sana kita merencanakan segala tetek-bengek sebuah perjalanan, dari mulai tujuan, transport, penginapan, sampai dengan biaya. Tapi pada prakteknya, tidak seharusnya sebuah itinerary bersifat mutlak mengikat. Karena there’s no such as perfect itinerary. Maka ketika sebuah perjalanan menawarkan ke kita sebuah pengalaman (entah itu pengalaman baik atau buruk) yang tidak kita rencanakan dalam itinerary, maka itu layak untuk dicoba. Begitu juga ketika kami mulai mengayunkan kaki memasuki gang kecil itu.
 Kampung Laweyan, dalam ingatan saya adalah sebuah sentra batik di Solo. Tidak terlalu salah memang. Di kampung ini hampir semua rumah merupakan outlet batik. Terus, apakah kami mau beli batik? Ah tidak. Selain batik, kampung ini menawarkan sesuatu yang tidak kalah unik, rumah kuno. Kami berdua yang penyuka arsitektur kuno ini cukup betah blasak-blusuk di gang-gang kecil depan rumah orang. Tak jarang berhenti di sudut halaman rumah orang hanya untuk memotret detail kecil di wuwungan atap. Hingga sebuah papan penunjuk membuat kami penasaran. Bunker. Bagaimana sebuah bunker sampai terletak jauh di dalam perkampungan padat penduduk seperti ini?


Rasa penasaran membuat kami bertanya lebih detail ke ibu penjual minuman yang kami lewati. Berdasarkan petunjuk beliau, kami menemukan juga gerbang merah yang dimaksud. Sekali melongokkan kepala ke dalam, saya menyadari, itu kan pekarangan rumah orang? Belum cukup kah kami berkeliaran di depan rumah orang sampai harus masuk ke halaman? Ternyata tingkah mencurigakan kami terbaca salah satu anak yang bermain di sana. “Madosi sinten?”. Salah tingkah, kami menjelaskan bahwa katanya ada bunker di dekat-dekat situ. Begitu tahu tujuan kami, anak perempuan manis itu segera saja menyilahkan kami masuk ke halaman rumahnya. Setengah segan, kami mengikutinya hingga masuk ke pendopo salah satu rumah di sana. Doh, setelah ini apa lagi? Menerobos masuk kamar orang? Pikir kami.
Ternyata bunker yang dimaksud benar-benar ada di dalam salah satu rumah di sana. Sang bapak pemilik rumah menyambut kami dengan ramah, meskipun jelas terlihat kami telah mengusik tidur siangnya. Bunker yang dimaksud merupakan ruangan bertembok bata merah dengan luas sekitar 2x2 meter. Bata merah yang digunakan berbeda dengan bata jaman sekarang yang cenderung kecil, bata di sana berukuran 2x bata yang kita kenal sekarang. Untuk masuk ke dalamnya, kami harus menuruni beberapa anak tangga. Di dalam, saya bisa berdiri dengan leluasa, meaning tingginya saya perkirakan tidak kurang dari 1.6 meter, meskipun sedikit tidak nyaman bernafas karena sedikit panas mengingat letaknya di bawah tanah. Cukup lama kami mengobrol di sana, sebelum akhirnya kami undur diri karena masih harus melanjutkan perjalanan.
Museum Batik Danarhadi merupakan tujuan kami yang berikutnya. Setelah melepas dahaga sekaligus bertanya arah di ibu-ibu penjual pecel di ujung gang, kami pun kembali naik bus ke arah Matahari, di mana konon katanya letak Danarhadi. Nah, bottom line di sini, tidak semua warga local Solo, tahu apa itu Museum Batik Danarhadi. Jika bertanya ke warga, kebanyakan dari mereka akan mengarahkan kita ke outlet Danarhadi di sebelah Matahari mall. Tidak salah juga sebetulnya, meskipun tujuan kami bukan ke sana. Akhirnya, sesampainya di outlet, kami bertanya pada salah satu pegawai Danarhadi. Asumsi logis, masa iya pegawai sendiri tidak tahu di mana kantor pusat mereka? Karena harus menyusuri jalan Slamet Riyadi melawan arus lalu lintas, kami memutuskan naik becak ke sana. Cukup dengan 10 ribu saja berdua.
Sesampainya di sana, kami dengan sok tahu stadium 2 segera menyelonong masuk kompleks mencari bangunan museum. Ketemu, dan saya dengan sok tahu stadium 5, berusaha sekeras pejuang angkatan ’45 untuk membuka pintu dengan mendorongnya. Sekali, dua kali, hingga tiga kali sebelum seseorang membukakan pintu itu dari dalam, dengan digeser. Yak, itu pintu geser Saudara-Saudara! Puas rasanya saya diketawain mas guide itu hari itu.
Harga tiket masuk museum ini 25.000 rupiah, untuk wisatawan lokal termasuk guide. Dengan koleksi batik yang luar biasa dan penjelasan guide soal batik juga tentu saja, yang super luar biasa menurut saya, harga itu tidak ada artinya. Di sana tidak hanya dipamerkan batik-batik Solo dan Jogja, tapi juga pola-pola batik dari banyak wilayah Nusantara lainnya, seperti Pekalongan, Lasem. Seperti banyak kebudayaan Indonesia lain, batik-batik nusantara juga banyak mendapatkan pengaruh dari budaya luar, terutama budaya Cina. Kalau saya tidak salah ingat, ada 11 ruangan di museum ini yang masing-masing ruangan menampilkan tema yang berbeda, termasuk batik dengan corak Cina, batik dari 4 keraton yang berkuasa di Jogja Solo, batik-batik Nusantara, koleksi Danarhadi sebagai pemberian dari beberapa tokoh terkenal, koleksi Bung Karno, dan koleksi batik yang didesign oleh designer dari Belanda.
Tepat ketika otak saya yang tidak seberapa canggih ini mulai berasap dengan penjelasan guide dan ratusan corak keriting-hampir sama dari koleksi batik di sana, guide kami membawa kami ke pabrik batik yang terletak tepat di belakang museum. Di sana semua proses membatik, mulai dari membuat pola, menarikan canting di atas kain, mulai dari mori  sampai sutera, proses pewarnaan, pelapisan lilin kembali, hingga ke proses pencucian terakhir. Tidak hanya batik tulis, yang proses membatiknya 100% dilakukan oleh ibu-ibu dan remaja putri, di sini juga diproduksi batik cap.
“Berapa lama Bu membatik selembar kain ini?” iseng saya tanya ke salah satu ibu yang tampak sibuk menarikan cantingnya untuk mengoleskan malam di atas kain berpola di depannya.
“Ya ndak tentu Mbak, yang ini saja sudah sebulan ndak selesai-selesai. Ruwet niki.” jawabnya sambil menunjukkan pola yang dikerjakannya.
“Tergantung mood itu, kalau mereka lagi berantem sama suami di rumah, woo bisa tambah lama lagi.” sambung guide saya yang lansung disambut tawa ibu-ibu di sana.
Oh ya, meskipun di museum penggunaan kamera dilarang, bawa saja kamera selama di museum. Bukan untuk mengambil foto diam-diam di museum tentu saja, tapi karena di pabriknya sendiri kita boleh mengambil foto sepuasnya. Danarhadi merupakan tujuan terakhir kami di Solo, sebelum bertolak ke Prambanan sore itu. Karena kami mengejar pertunjukan Ramayana Ballet di panggung terbuka tepat di belakang Prambanan pukul 19.30 hari itu.
Solo, meskipun hanya setengah hari, cukup banyak menyajikan kekhasannya untuk saya. Bukan sekedar batik dan kerumitan di balik pola-pola cantiknya, namun lebih pada keramahan yang saya nikmati sepanjang perjalanan kami. Di Solo, saya menikmati tutur halus bahasa Jawa yang lain dari yang biasa saya dengar di pesisir utara tempat kelahiran saya. Mengalun indah dan terasa halus di telinga. Dan sepertinya, saya akan lebih sering bersinggungan dengan kota ini di masa depan. *Bagian curcol boleh diskip si..*
Ramayana ballet, atau lebih sering kita kenal sebagai Sendratari Ramayana merupakan pertunjukan tari yang mengetengahkan lakon Rama dan Shinta. Pertunjukan di panggung terbuka sendiri hanya berlangsung selama musim kemarau, setiap 2 hari sekali selama bulan Maret – September. Sedangkan di musim penghujan, pertunjukan ini akan dilangsungkan di panggung tertutup Trimurti. Salah satu lagi keberuntungan kami yang jalan-jalan di penghujung musim kering tanah Jawa. Ada beberapa kelas penonton di sini, VIP seharga 225 ribu, kelas I seharga 150 ribu dan kelas II dengan harga 75 ribu. Mengingat kapasitas panggung ini yang bisa menampung ratusan orang (kelas II saja kalau tidak salah 650 orang), tidak diperlukan reservasi tempat jauh di muka. Beda kelas di sini menentukan tempat duduk seperti di banyak pertunjukan lainnya. Namun khusus untuk  VIP tidak hanya mendapatkan tempat duduk tepat lurus di depan panggung, namun juga sedikit camilan dan wangi secangkir kopi di saat jeda pertunjukan.


Cerita lengkap dan foto-fotonya akan saya post di lain tempat ya... Dah panjang aja ini posting.
***
0 Responses

Thanks for leaving comment..