Jateng Trip: Long Road to Heaven

Bahkan langit pun masih enggan membuka mata pagi itu ketika saya membangunkan petugas resepsionis guest house untuk check out. Jam 5 pagi. Matahari seharusnya malu dengan saya. Mendahului matahari jelas bukan ide yang menarik untuk saya, apalagi malam sebelumnya saya baru bisa memejamkan mata selepas tengah malam. Namun semangat akan perjalanan ke sebuah negeri di atas awan membuat saya tidak tertarik untuk men-snooze suara kucing kebelet kawin yang jadi alarm saya pagi itu. Satu lagi serpihan surga yang dicipratkan Tuhan untuk Indonesia. Dataran tinggi Dieng. 
Nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta, Di-Hyang. Di bearti tempat dan Hyang bearti Tuhan/Dewa-Dewa. Jadi Dieng diartikan sebagai tempat para Dewa. Buat saya, itu arti harfiah. Karena percayalah, nama itu tidak diberikan tanpa alasan. Dataran yang berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut ini dalam peta administratif Jawa Tengah, terletak di beberapa wilayah kabupaten. Sebut saja Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, Batang, Pekalongan dan Kendal. Kok banyak? Bisa dimengerti karena luasnya wilayah yang disebut sebagai dataran tinggi Dieng. Namun untuk obyek-obyek wisatanya sendiri, kebanyakan berada di wilayah Wonosobo dan Banjarnegara.

Karena satu dan lain hal (yang saya nikmati dalam hati), kami baru beranjak dari Jogja pukul 8 pagi. Buat saya cukup pagi, mengingat sesampainya di Wonosobo kami masih harus menunggu seorang teman dari pantura yang baru bergerak selepas Subuh. Dari terminal Jombor, Sleman, tempat janjian kami bertiga, pertama-tama kami naik bis tujuan Magelang. Karena memang tidak ada bis langsung ke Wonosobo dari Jogja. Baru dari Magelang kami berganti bis kecil Magelang - Wonosobo. Perjalanan Magelang Wonosobo merupakan hal yang sama sekali baru untuk saya. Maka awalnya saya cukup takjub ketika kondektur bis menagih tarif 14 ribu per orang. Sejauh itu? Ternyata memang, bis kecil itu membawa kami selama hampir 2.5 jam perjalanan. Dengan bonus pemandangan yang luar biasa. Sedangkan jika starting point dari Semarang, ke Wonosobo bisa ditempuh dengan 2 cara, naik bis jurusan Purwokerto turun langsung di terminal Wonosobo. Atau dengan naik bis Semarang – Jogja, turun di pertigaan/terminal Secang untuk kemudian berganti bis Magelang – Wonosobo.
Dari tempat duduk paling depan bis itu, untuk pertama kalinya saya bisa mengerti mengapa Sindoro – Sumbing terkenal sebagai gunung kembar. Selepas Temanggung, saya seperti memasuki dunia lain dengan pintu gerbang 2 buah gunung yang tegak menjulang sebelah menyebelah nyaris persis sama. Hanya dibelah seruas jalan propinsi dengan Sumbing di sebelah kiri dan Sindoro sebelah kanan. Detik itu saya berharap memiliki lensa wide dengan jangkauan 180 derajat. *jedot-jedotin kepala di jendela bis*
Sesampainya di terminal Wonosobo, setelah rombongan kami lengkap berempat, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan angkot ke Kauman, kemudian disambung bis kecil ke Dieng. Menurut ibu penjual minuman di terminal tempat kami sempat sekedar makan siang, bis ke arah Dieng maupun sebaliknya ini ada sampai sore, jadi tidak perlu kuatir kehabisan transport.
Sepanjang perjalanan menuju Dieng, kami kembali disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa cantik. Meskipun langit sedikit kelabu siang itu, namun tidak sanggup menyembunyikan keindahan luar biasa jajaran perbukitan yang kami lalui. Kalau ada hal yang harus saya sayangkan di sini adalah banyaknya punggung gunung yang bopeng. Nyaris hampir semua dataran di punggung pegungunan yang kami lewati telah beralih menjadi lahan pertanian kentang. Gundul.
Untuk penginapan, jika ke Dieng tidak dengan rombongan besar atau bertepatan dengan libur panjang, saran saya tidak perlu memesan jauh-jauh hari. Di sini banyak sekali rumah-rumah penduduk yang berubah fungsi menjadi penginapan-penginapan sederhana. Namun meskipun sederhana, seperti penginapan Lestari yang terletak di ujung belokan jalan tempat kami menginap saat itu, tersedia juga air panas. Harganya pun sangat bersahabat untuk kantong, yaitu 75 ribu rupiah saja per kamar, dengan bonus segelas teh panas sebagai welcome drink. Memang, bagi para turis backpacker kere macam kami, Dieng merupakan tempat yang cukup bersahabat di kantong. Bagaimana tidak, selain penginapan murah, hampir semua tempat tujuan wisata di Dieng bisa dijangkau dengan jalan kali dengan jarak tempuh yang relatif pendek. Saya sebut tadi relatif, jadi jangan protes. Seperti misalnya saja kompleks candi Arjuna yang merupakan tujuan pertama kami. Bis yang kami naiki melewati tepat di depan kompleks candi tersebut. Jadilah, kami dengan masih berselempangkan ransel masing-masing memulai penelusuran kami di Dieng berawal dari kompleks Candi Arjuna.

Kompleks candi pertama ini kecil saja. Berisikan beberapa candi seperti candi Srikandi, candi Puntadewo, candi Sembadra dan tentu saja candi Arjuna sebagai candi terbesar. Sekitar seratus meter dari kompleks candi, kita dapat berkunjung ke Museum Kaliasa, yang koleksinya adalah ruang pamer berbagai macam benda dan artefak peninggalan sejarah, terutama yang ditemukan di lingkungan candi-candi Dieng. Selain kompleks candi Arjuna tadi, ada juga candi-candi yang berdiri terpisah, seperti candi Gatotkaca dan candi Setyaki.
Obyek wisata lain di Dieng selain candi dan peninggalan purbakala lain, ada juga beberapa kawah aktif, seperti kawah Sikidang. Kawah yang pernah mengeluarkan gas beracun dan merenggut banyak korban nyawa ini letaknya berpindah-pindah, yang oleh karena itu diberi nama Sikidang, atau seperti hewan kijang. Dari Museum Kaliasa, kawah Sikidang bisa dicapai dengan berjalan kaki atau naik kendaraan pribadi. Akses ke area kawah sendiri berupa jalan lebar beraspal mulus. Beberapa ratus meter dari museum Kaliasa kita akan menjumpai pertigaan. Kawah Sikidang belok ke kanan, sedangkan di arah kiri kita akan temukan Telaga Warna.
Tiket masuk Kawah Sikidang dan Kompleks Candi Arjuna merupakan tiket terusan. Jadi tidak perlu lagi membeli tiket untuk kawah Sikidang. Sedangkan untuk Telaga Warna, tiket masuk dibeli terpisah di pintu masuk telaga. Off the record, dengan petunjuk tukang ojek yang mengantar kami keesokan harinya, kami masuk ke Telaga Warna melalui jalan belakang. Lewat mana? Ah, lewat jalan yang benar saja lah, tak perlu ikuti kami. Telaga yang sebelah menyebelah dengan telaga Pengilon ini mempunyai warna yang cantik, tosca. Sayangnya, kami kurang jeli melihat sudut yang tepat untuk mengamati telaga ini. Karena menurut beberapa catatan yang saya baca, ada satu bukit yang dari puncaknya kita bisa melihat warna telaga Warna dengan lebih optimal.
Jika berkesempatan menginap di Dieng, jangan lewatkan juga menyaksikan matahari terbit dari puncak Sikunir. Biasanya penduduk sekitar akan menawarkan diri untuk menjadi guide ke sana. Atau jika pengunjung tidak membawa kendaraan pribadi, mereka juga bisa sekalian menjadi ojek. Tarif yang ditawarkan saya rasa beragam. Kemarin, dengan tanpa perlawanan yang bearti kami menyetujui angka 120 ribu untuk 3 ojek orang ojek sekaligus guide kami ke Sikunir. Jadi kira-kira 30 ribu seorang.
Perjalanan dimulai tepat di waktu Subuh. Dengan tubuh menggigil dan hidung yang nyaris beku di bawah hantaman angin dingin bersuhu 10 derajat Celcius, kami bertujuh beriringan menuju telaga Cebong, tempat parkir motor sebelum trekking ringan ke puncak Sikunir. Dari tempat parkir, perjalanan ke atas sebetulnya tidak jauh. Menurut pemandu kami, hanya sekitar 10-15 menit. Hanya saja, 10-15 menit itu berupa jalan setapak makadam mendaki dan harus kami tempuh dalam kegelapan jam 5 pagi. Lumayan menghangatkan tubuh kami di pagi buta itu.
Sesampainya di atas, langit sedang menampilkan rona terindahnya tepat sebelum sang penguasa langit siang menyapa. Dari tempat kami berdiri, tampak siluet gagah Sindoro dan Sumbing menjadi latar depan atraksi alam pagi itu. Di kejauhan, tampak samar bayang-bayang Merapi dan Merbabu. Dan di bawah kaki kami, bergulung-gulung awan putih luas menghampar.  Saya bukan pujangga yang berbakat menggambarkan indah ciptaanNya dengan kata-kata. Saya juga bukan fotografer hebat yang bisa mengabadikan 1000 kata dalam foto-foto saya. Tapi saya rasa, foto seadanya berikut jauh lebih baik dari pada separagraf lagi tulisan dari saya.
 


Mengingat perjalanan panjang pulang, kami memutuskan tidak menunggu siang untuk kembali turun ke Wonosobo. Sekitar pukul 11 kami beranjak meninggalkan Dieng. Dan kembali bertualang dari bis ke bis untuk mencapai rumah orang tua masing-masing. Eh, kecuali satu teman saya yang saya rasa pulang ke rumahnya sendiri (sebelum kena protes).
Setelah hampir selama 6 hari berturut-turut kami berjibaku dengan bis ekonomi, rasanya pantas kalau sore itu kami memutuskan untuk sedikit menikmati kemewahan tidur di atas bis Patas selama 5 jam. Err, dan juga kemewahan dijemput Pak’e di halte bis. Mungkin sesekali waktu tinggal dengan orangtua memang menyenangkan. Setidaknya ada yang jemput sepulang dari travelling. #eh *dikutukjadibatu*
Sebuah catatan kecil dari perjalanan ke Dieng ini. Terlepas dari keindahan luar biasa yang ditawarkan dataran tinggi ini, saya ternyata bukanlah anak gunung. Saya ternyata tetap lebih memilih laut. Saya lebih memilih terik menyengat matahari di ubun-ubun daripada tajam angin dingin yang serasa membekukan ujung hidung. Saya lebih memilih bermain dengan kecipak ombak daripada menyentuh air bak mandi yang sepertinya lupa dikeluarkan dari freezer semalaman. Yah, saya tetaplah anak pesisir. Atau kalau boleh lebih tepat, anak pesisir kaki gunung Muria.

PS: Dieng. Sepenggal rembulan. Secangkir good day cappucino. Percakapan kita di sudut ruang.
***
5 Responses
  1. Anonymous Says:

    kerennnn

    imgar


  2. Dewi Says:

    waaa, kalian enak..duduk di kursi tambahan yang berkaki.. lha aku ki lho, lungguhe ng bangku tambahan yang tanpa kaki.. yen benar2 mendudukkan diri, bangku itu akan melengkung dan diriku jatuh ndoprok.. :( bener-bener,satu jam yang menyiksa.. hahaha..
    *curhat sesi kepulangan dengan bis patas


  3. QueeNerva Says:

    @Imgar: Thanks Gar..

    @Dewi: Masi urusan yang balapan dapet tempet duduk itu yak? LOL
    Mayan lah cuman sejam .. dah dapet banyak kortingan kan itu PATAS :p
    *Tawa sadis temen yang dapet bangku rada bener


  4. ke dieng ini lebih seru lagi kalau pas musim kemarau. dinginnya bener-bener semakin kerasa.. saking dinginnya saya malah nggak bisa tidur.. badan rasanya hampir membeku.. hehe


  5. QueeNerva Says:

    @Tri: Hahaha..pasti seru itu. Secara klo kemarau di Yogya aja udah dingin banget. Kebayang di Dieng. *dan sepertinya ga tertarik....kurang suka dingin.. hhahaha


Thanks for leaving comment..