Jateng Trip: Melipir Jogja – Pulang ke Kotamu

“Jadi ini mau ambil kamar standard ya? Eh mbak, itu kamar mandinya di luar lho..”, tangan yang tadinya hendak menulis check in kamar saya  itu mengantung di udara sementara empunya menatap saya dengan pandangan bertanya.
“Iya, ga papa. Saya tahu kok.”, jawab saya sambil tersenyum.

“Ow..”, kembali ditulisnya data saya di sebuah buku. “Itu isi kamarnya cuma kasur sama kipas angin lho mbak, ga ada apa-apa lagi.”, ujarnya sekali lagi seolah meyakinkan diri sendiri bahwa perempuan di depannya ini benar-benar hendak mengambil kamar paling murah di hostelnya malam itu.

“Ndak papa. Saya juga cuma mau tidur kok, bukan mau ngapa-ngapain.”, balas saya sambil cengar-cengir.

Malam itu sesuai rencana saya menginap di salah satu hostel di Jogja. Sendirian, karena teman saya menginap di tempat saudaranya. Dan sengaja tidak melakukan reservasi karena saya tahu ada banyak sekali penginapan di kota ini. Jadilah untuk menghemat waktu, malam itu selepas menonton Sendratari Ramayana saya menghubungi beberapa penginapan murah yang saya dapatkan di sini, untuk mencari tahu apakah mereka masih punya kamar kosong. Dan pencarian saya berakhir di House 140. Penginapan bergaya kos-kosan ini menawarkan kamar termurah seharga 70 ribu, cocok dengan budget saya. Sebenarnya, kalau mau, saya bisa saja berburu kamar yang lebih murah di Sosrowijayan malam itu. Tapi kombinasi jam 11 malam, ransel berat di punggung, ditambah mata ngantuk membuat saya lebih memilih yang pasti-pasti saja.


“Mas, sekitaran sini masih ada toko buka ga ya?” saya yang berniat membeli beberapa keperluan sambil mencari makan malam kembali keluar dan bertanya pada mas tadi.

“Wah, kurang tahu ya, coba di perempatan depan sana Mbak. Atau ke Janti pasti ada. Tinggal ini lurus terus belok kanan, terus lurus saja.” Jelasnya “Atau saya panggilkan taksi saja po?”

“Eh, ndak usah Mas. Saya tahu jalan kok.” Aduh Mas, ndak lihat apa kalau tamu sampeyan yang satu ini kere? Tapi tentu saja, saya tidak membual kalau saya bilang saya memang tahu jalan di Jogja. Sudut-sudut kota ini cukup akrab dengan saya sejak 10 tahun lalu. Well, time really flies. 

Malam ke dua di Jogja, saya memilih pindah lebih ke tengah kota. Setelah browsing di Yogyes.com, akhirnya pilihan saya jatuh ke Ndalem Suratin Guest House yang terletak di AM. Sangaji, depan Kodim, utara SMP 8. Guest house ini cukup saya rekomendasikan kalau Anda terdampar sendirian di Jogja, butuh tempat menginap yang tidak perlu berpenyejuk udara, cukup kipas angin saja. Di kamar saya yang hanya berisi sebuah tempat tidur single, tersedia juga sebuah televisi kecil. Sebuah bonus yang cukup menyenangkan buat saya, walau pun fungsinya hanya untuk meninabobokan saya yang malam itu pulang cukup larut. Nilai plus guest house ini, kamar mandi bersamanya sangat bersih, dan menggunakan shower. Hal yang sangat penting dalam sebuah common bathroom. Letaknya cukup dekat juga dengan halte TransJogja, sehingga memudahkan pergerakan. Dan untuk semua fasilitas itu, saya hanya perlu menebusnya dengan 70.000 rupiah saja.
Siangnya, sesuai rencana sebelumnya kami berkunjung ke Ullen Sentalu Museum. Museum milik pribadi ini terletak di dekat taman wisata Kaliurang. Jika dari arah kota Jogja, bisa mengambil bis Jogja – Kaliurang dari perempatan Ketungan. Bis akan berjalan lurus ke utara, turun saja tepat di pertigaan depan pintu masuk waman wisata Kaliurang. Kemudian ambil jalan ke kiri, lurus saja sekitar 200 meter. Di sebelah kanan jalan akan ada papan penunjuk kecil mengarah ke Ullen Sentalu. Museum ini memang cukup tersembunyi. Dari luar sama sekali tidak tampak bahwa bangunan di dalamnya memakan waktu lebih dari 1 jam untuk dikelilingi.
 Tiket masuk museum ini untuk dewasa Rp 25,000 sudah termasuk seorang guide yang akan mendampingi kita berkeliling. Hari itu kami didampingi seorang gadis manis yang cukup luwes menjelaskan koleksi museum mengingat kami juga membawa seorang sepupu kelas 3 SD. Kebanyakan koleksi merupakan foto dan lukisan para anggota 4 keraton yang berkuasa di Jogja dan Solo, Kesultanan, Pakualaman, Mangkunegaran, dan Kasunanan. Satu hal yang membuat kami berjingkrak kegirangan ketika mengamati silsilah para raja Mataram tersebut. Di ujung atas pohon silsilah, meskipun tanpa nama, tersebutlah “Putri dari Pati”. Ada juga koleksi surat-surat pribadi salah seorang putri, koleksi batik keraton, dan sebuah ruangan khusus yang didedikasikan untuk GRAy Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Surjosoejarso atau lebih dikenal sebagai Gusti Nurul. Beliau adalah putri dari HRH Mangkunegoro VIII dan GKR Timur Mursudariyah. Lengkapnya silakan check di sini. Di akhir rangkaian tur, kami disuguhi segelas minuman hangat yang konon bisa membuat awet muda. Entah benar entah tidak, yang pasti enak..sayang hanya sedikit.
Seperti banyak museum pribadi lainnya, di Ullen Sentalu juga tidak diperkenankan untuk mengambil foto di dalam museum. Jadilah hasrat narsis kami lampiaskan di halaman museum. Tidak hanya museum, di Ullen Sentalu ini juga ada restoran yang menyajikan menu masakan khas Belanda. Jadi setelah capek berkeliling, pengunjung bisa langsung bersantap di sana. Sayangnya, kami tidak berkesempatan mencicipi, karena dengan penuh pengertian sepupu teman saya memilih sajian lokal saja, sate kambing. Pilihan cerdas, Nu!
Selesai makan siang yang sedikit telat, kami segera beranjak turun ke pertigaan taman Kaliurang. Menurut beberapa sumber, bis turun ke Jogja sedikit sulit jika menjelang sore. Di pertigaan, saya bertanya pada seorang anak yang kebetulan melintas, apakah bis menuju Jogja lewat di sana. Dia menyarankan untuk turun ke tugu udang, sekitar 200 meter dari tempat kami saat itu. Tunggu punya tunggu di tugu udang, tak juga ada bis atau apapun yang bisa membawa kami ke kota, padahal waktu belum lagi lewat dari jam 3 sore saat itu. Setelah 20 menit menunggu, kami putuskan untuk jalan turun ke bawah. Jadilah, kami bertiga, lengkap dengan gerutuan lapar dari sepupu teman saya beriringan menuju gerbang wisata Kaliurang, sekitar 1.5 km dari taman. Tadinya, kalau benar-benar tidak bisa menemukan bis, kami berniat berjalan sampai pasar Pakem. Untungnya, setengah jam menunggu, karena menurut beberapa penduduk yang saya tanya masih akan ada bis yang turun, bis yang ditunggu-tunggu pun datang. So, berkaca dari pengalaman kami, pastikan saja turun dari Kaliurang tidak melebihi jam 2 siang. Mungkin juga dikarenakan hari itu bukan hari libur, jadi tidak banyak bis yang masih mengarah ke Kaliurang sore itu.
Sisa hari itu saya habiskan dengan hunting pesanan ibu saya, pajangan lucu untuk ruang tamu. Tak perlu pikir panjang untuk itu, Malioboro adalah tempat paling tepat untuk melampiaskan hasrat hunting pernak-pernik etnik nan lucu. Walhasil dari sana, ransel saya tiba-tiba bertambah berat 2 kg, berupa sebuah becak, sepeda onta, dan sepasang pengantin Jawa. Miniatur tentu saja. Sedangkan malamnya saya habiskan waktu dengan bersenang-senang di Toga Mas. Melupakan beratnya ransel yang harus saya gendong selama sisa perjalanan, malam itu 5 buku berpindah dari rak-rak mereka. Well, Jogja memang selalu tahu apa yang saya mau. Aha!
Seperti setiap orang yang berfikir bahwa kota tempat mereka kuliah adalah kota yang paling menyenangkan, saya juga demikian. Buat saya, ke Jogja bukan sekedar perjalanan liburan, tapi lebih seperti pulang. Pulang ke tempat yang pernah ikut membesarkan saya. Pernah menggembleng saya menjadi saya sekarang. Kota yang beberapa sudutnya pernah menjadi saksi banyak cerita merah jambu, biru dan kelabu hidup saya. Kota yang .. ah sudah ah curcolnya. See ya Jogja!
***
7 Responses
  1. Dewi Says:

    Ralat: Fit, inu tu adek sepupuku, bukan ponakanku.. :D


  2. QueeNerva Says:

    Ow...err...OK..ga terima dipanggil budhe yak? LOL


  3. Dewi Says:

    Yoai, aku kan masih remaja.. :D


  4. QueeNerva Says:

    Remaja tahun 90an?

    Btw...ke post ke FB yak? LOL
    Sok-sokan testing ini..


  5. Dewi Says:

    hoowh, aku terjebak.. :D


  6. buzzerbeezz Says:

    Seperti setiap orang yang berfikir bahwa kota tempat mereka kuliah adalah kota yang paling menyenangkan, saya juga demikian <- kok aku gak ngerasa gini ya sama kota tempatku kuliah?


  7. QueeNerva Says:

    @Bee: Kuliahnya di Jakarta ya? Wajar :/